Dr. Hakiman, M.Pd.
Puasa bukan hanya ibadah simbolik tetapi mengandung pembelajaran bermakna (meaningful learning) bagi siapa saja yang menjalankannya. Bulan Ramadahan merupakan bulan pendidikan, latihan dan bimbingan (syahru tarbiyah) untuk menciptakan manusia yang berkarakter taqwa. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan capaian 8 profil pendidikan nasional yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah periode 2024-2029 yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, kewarganegaraan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan komunikasi, yang diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dengan olah fikir, olah hati, olah raga, olah rasa dan olah karya.
Menciptakan karakter beriman dan bertaqwa merupakan tujuan utama pendidikan di Indonesia, sehingga Ramdahan sebagai bulan yang istimewa bagi umat Islam menjadi momentum yang tepat dalam memberikan bimbingan dan latihan dalam mewujudkan manusia yang berkarakter taqwa. Karakter taqwa adalah manusia yang mempunyai hubungan atau sikap yang baik dengan sang pencipta dan mempunyai hubungan baik dengan manusia dan alam, dengan kata lain karakter taqwa adalah sikap manusia dalam menjaga diri dari hal-hal yang dapat membawa keburukan.
Secara psikologis dan sosiokultural karakter taqwa dibentuk melalui konfigurasi olah pikir (intellectual development), olah hati (spiritual and emotional development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Peserta ddidik dapat dikembangkan intelektualnya (olah fikir) melalui kajian keagamaan baik menjelang berbuka seperti kultum (kuliah tujuh menit), kulsub (kuliah subuh), kajian khusus Ramadan dan kegiatan keagamaan lainnya yang disenggarakan baik oleh sekolah/ madrasah atau di masjid/ mushola dilingkungannnya. Nilai-nilai spiritual dan sosial puasa juga dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, sehingga puasa Ramadan begitu bermakna dalam kehidupan sosial peserta didik.
Olah hati dilakukan melalui sentuhan-sentuhan rohani dalam kegiatan ibadah spiritual dan ibadah sosial. Bulan Ramadan menjadi sarana untuk mengembangkan emosional dan spiritual, sehingga sekolah/madrasah dapat menyelenggarakan berbagai program sosial keagamaan dengan didukung oleh keluarga, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. Ramdahan juga memberikan pembelajaran bermakna dalam olah raga karena dengan berpuasa tubuh menjadi sehat, bugar dan terampil, sehingga kesehatan mental dan fisik tercipta dari puasa. Puasa mengajarkan kedisplinan dalam mengatur pola makan, tidur dan aktifitas yang sehat.
Puasa juga mengasah kepekaan, empati dan kepedulian sosial (olah rasa) kepada peserta didik, dengan berpuasa mereka merasakan penderitaan orang lain yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan minum. Rasa lapar yang dirasakan melatih kepekaan kepada para fakir miskin yang kelaparan, sehingga puasa menjadi media pembelajaran ibadah sosial yang mendorong pada kesadaran (mindful) diri dalam menciptakan keadilan sosial. Melalui puasa, penalaran kritis pun terasah untuk melihat keadaan sosial, sehingga puasa tidak berhenti pada ibadah ritual semata.
Peserta didik dapat ikut bagian dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat (olah karya), melalui berbagai kegiatan sosial seperti berbagi menu buka puasa, pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah maupun zakat harta (mal). Sekolah/madrasah dapat mefasilitasi peserta didik dalam mengembangkan karya mereka melalui kegitan positif yang bermanfaat bagi pengembangan diri mereka dan masyarakat. Kreatifitas mereka ditunjukan melalui karya nyata yang terbimbing sehingga merekapun bahagia (joyful) karena pembelajaran tidak melulu berada di dalam kelas.
Peserta didik dapat diberikan keleluasaan dalam melakukan komunikasi dan berkolaborasi dengan teman sejawat, guru, takmir masjid, tokoh agama, masyarakat, orangtua dalam menyelenggarakan kegiatan sosial keagamaan di masyarakat. Kemampuan komunikasi dan kolaborasi peserta didik menjadi bagian dari kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik pada pembelajaran abad 21, sehingga kemampuan belajar abad 21 dapat terasah melalui momentum bulan Ramadan.
Puasa melibatkan peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses belajar, sehingga pembelajaran bersifat kontekstual, mereka tidak hanya memahami teks-teks mengetahuan tetapi dapat belajar secara faktual dari perjalanan puasa Ramadan yang mereka lakukan. Pengetahuan mereka tidak berhenti dalam tataran konsep, tetapi lebih mendalam dalam tataran fakta dan meta kognitif (sikap). Peserta didik diajak untuk memahami alasan di balik setiap materi pelajaran yang dipelajarinya, dan akan menyadari manfaat di kehidupan nyata.
Kontektualisasi pembelajaran menjadi pesan penting dalam proses pembelajaran bermakna (meaningful learning), di mana pembelajaran bukan hanya menguasai imformasi pengetahuan semata tetapi berorientasi pada kesadaran atas fenomena sosial yang dihadapi dan mampu memecahkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Kontektualisasi puasa dalam proses pembelajaran menjadi penting untuk dilakukan melalui integrasi dan internalisasi nilai-nilai puasa pada kelas-kelas pembelajaran, sehingga pembelajaran betul-betul bermakna.
Pembelajaran bermakna juga didasarkan pada kesadaran diri atau keinsafan atas apa yang dipikirkan, dirasakan dan yang sudah dilakukan, sedang dilakukan dan akan dilakukan, dengan kesadaran inilah mereka dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Melalui kesadaran inilah mereka dapat mempertimbangkan apa yang akan dilakukan, sehingga tindakannya tidak menimbulkan keburukan dan penyesalan di kemudian hari.
Kesadaran merupakan petensi dan kekuatan jiwa sebagai perangkat untuk mendorong menciptakan karakter taqwa, melalui puasa yang dikerjakan akan mendorong peserta didik menjadi pembelajar aktif dan meregulasi dirinya. Ramadan bukan hanya menikmati keistimewaan bulannya semata, tetapi dapat menikmati setiap prosesnya sebagai bagian dari pembelajaran positif yang bermakna bagi kehidupan.
Ramadan menjadi sarana dalam menginternalisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai karakter melalui pengetahuan nilai (value knowing), penghayatan nilai (value feeling) dan implementasi nilai (value actioan). Pengetahuan nilai dilakukan melalui olah fikir di dalam proses pembelajaran, pengahayatan nilai dilakukan melalui olah hati, olah raga dan olah rasa adapun impelmentasi nilai dilakukan melalui olah karya kegiatan nyata peserta didik.
Ramadahan memberikan pendekan pembelajaran yang mendalam (deep learning) yang dimulai dari membangun kesadaran diri (maindful learning) melalui spiritual competence dan pembelajaran bermakna (meaningful learning) dengan kontektualisasi puasa yang berdimensi ritual dan sosial serta pembelajaran menyenangkan (joyful learning) dengan melibatkan peserta didik dalam pembelajaran di masyarakat yang tidak terikat oleh kelas-kelas kaku pembelajaran.
Pembelajaran bermakna juga dapat dikemas melalui kegiatan pesantren Ramadan dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat TNI-POLRI, para ahli dalam bidang kesehatan, psikologi, mental dan ahli lainnya dalam memberikan pendidikan karakter pada peserta didik. Pelibatan stakeholder pada proses pembelajaran mendorong tumbuhnya tanggungjawab bersama dalam mendidik generasi emas yang berkarakter taqwa.