Loading...

Menghidupkan Masa Lalu: Transformasi Digital Pembelajaran SKI melalui Google Earth

Diterbitkan pada
2 Februari 2026 15:15 WIB

Baca

Oleh: Putri Irma Solikhah

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sering kali terjebak dalam stigma sebagai narasi masa lalu yang kaku, linier, dan membosankan. Di ruang-ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs), sejarah kerap disajikan sebagai tumpukan angka tahun dan deretan nama tokoh yang harus dihafal demi tuntutan ujian. Padahal, sejarah adalah sebuah fragmen kehidupan yang dinamis, di mana setiap peristiwa terikat kuat dengan ruang geografisnya. Kehilangan konteks spasial inilah yang sering kali membuat pembelajaran SKI kehilangan "ruh" dan gagal memberikan kesan mendalam bagi peserta didik.

Kesenjangan antara teks sejarah yang abstrak dengan realitas geografis ini menuntut para akademisi dan calon guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk melakukan reorientasi metodologi. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan retorika atau imajinasi liar siswa dalam membayangkan betapa terjalnya jalur Hijrah Nabi atau betapa strategisnya lokasi Daulah Abbasiyah di Baghdad. Di era transformasi digital ini, tantangan tersebut dapat dijawab dengan mengintegrasikan Google Earth ke dalam ruang kelas sebagai media pembelajaran geospasial yang imersif.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa kita harus menggunakan Google Earth dan bukan Google Maps yang lebih populer digunakan sehari-hari? Jawabannya terletak pada tujuan penggunaannya. Jika Google Maps dirancang sebagai alat navigasi praktis untuk mencari rute perjalanan dan lokasi bisnis modern, maka Google Earth adalah sebuah ensiklopedia bumi 3D. Google Earth memungkinkan kita menghilangkan gangguan ikonik modern seperti restoran atau pom bensin, sehingga fokus siswa murni tertuju pada bentang alam sejarah. Lebih dari itu, Google Earth memiliki fitur "Projects" yang berfungsi layaknya slide presentasi sinematik, membawa penonton "terbang" dari satu titik ke titik lain secara otomatis—suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh peta navigasi biasa.

Alat ini hadir sebagai solusi ampuh untuk mengatasi kejumudan belajar melalui tiga keunggulan utamanya:

Pertama, Visualisasi Geografis yang Nyata. Berbeda dengan peta datar biasa, Google Earth menampilkan topografi bumi secara presisi. Saat membahas Perang Badar atau Uhud, guru tidak lagi terbatas pada gambar skema di papan tulis. Siswa bisa melihat kemiringan Gunung Uhud, memahami posisi strategis pasukan pemanah di atas bukit, dan melihat jarak nyata antara Madinah dengan lokasi tempur melalui perspektif tiga dimensi. Hal ini mengubah beban hafalan menjadi pemahaman ruang yang konkret dan logis.

Kedua, Kemampuan melakukan Virtual Tour ke Situs Bersejarah. Mengingat keterbatasan fisik untuk mengunjungi Masjidil Haram atau Istana Alhambra secara langsung, fitur Street View dan foto 360 derajat hadir memberikan akses tak terbatas. Pengalaman imersif ini memungkinkan siswa seolah-olah "berdiri" di depan situs sejarah tersebut, memicu rasa ingin tahu dan kekaguman (sense of wonder) yang tidak mungkin didapatkan hanya dari sekadar melihat foto kecil di buku paket.

Ketiga, Menghidupkan Jalur Dakwah dan Ekspansi. Melalui fitur Projects, guru maupun mahasiswa dapat menyusun rute perjalanan sejarah secara mendetail. Kita bisa melacak rute dakwah Wali Songo di sepanjang pesisir Pulau Jawa hingga jalur ekspansi Islam dari jazirah Arab menuju Andalusia, Spanyol. Dari sini, siswa dapat menyaksikan betapa luasnya jangkauan peradaban Islam dan betapa beratnya perjuangan para pendahulu dalam melintasi benua.

Secara psikologis, penggunaan media interaktif ini mengubah posisi siswa dari pendengar pasif menjadi penjelajah aktif. Ketika siswa diberikan tugas untuk melacak rute sejarah mereka sendiri, mereka sedang belajar melalui proses penemuan (discovery learning). Rasa bosan yang selama ini menghantui kelas SKI akan berganti menjadi antusiasme karena mereka terlibat langsung dalam proses "detektif sejarah" yang menyenangkan.

Sebagai kesimpulan, sejarah pada hakikatnya adalah jalinan antara manusia, tempat, dan waktu. Mengabaikan aspek "tempat" dalam pengajaran sejarah adalah sebuah kerugian besar bagi dunia pendidikan. Google Earth memberikan kesempatan bagi guru dan mahasiswa PAI untuk menghancurkan dinding-dinding kelas yang sempit dan membawa siswa melintasi batas geografis demi memahami kejayaan masa lalu. Sudah saatnya kita berhenti memaksa siswa menghafal sejarah, dan mulai mengajak mereka menjelajahi sejarah. Dengan teknologi, SKI tidak lagi menjadi pelajaran tentang masa lalu yang kusam, melainkan jendela menuju peradaban yang penuh warna.